Tenang dalam Pikir yang Tak Berujung

Dua hari yang lalu aku menghadapi suatu goncangan, dimana rasa kesal pada seseorang yang tiba-tiba bertindak aneh seperti menutupi apa yang telah terjadi. Memang sudah lama kami tidak bertemu. Iya kami, karena kita ber group. Tidak tahu kenapa ketika melihat, tidak sengaja juga aku penasaran dan meng-klik salah satu story yang memang sebenarnya aku malas banget untuk membukanya. Ya, tipeku ini jarang banget untuk buka-buka story istilahnya kalau emang engga bener-bener pengen buka ya nggak buka, haha.

Klik. Melihat dan mendengarkan, deg. Langsung dalam hati ini kenapa kayak ngerasa ada yang sakit dan langsung mikir aneh-aneh. Otomatis lah jelas ku reply, aku memang orangnya suka langsung tanya aja ke orangnya daripada kepikiran hal-hal yang negatif alias suudzon dan mendem nanti bakal jadi pikiran dan sakit sendiri. Ternyata memang iya mereka datang berkumpul karena akan ada sebuah event atau apalah aku juga kurang tau, ya mau gimana lagi disaat pandemik ini memang aku jarang keluar rumah. Bahkan keluar rumah pun hanya bersama Mas (panggilan kakak laki-lakiku yang tertua). Bener-bener ngejaga banget soalnya untuk #dirumahaja haha ya mau gimana lagi jelas aku engga tau sama sekali apa kegiatan yang ada diluar.

Reply-an chatku tidak dibalas. Sudah jelas didalam benak ini berkata, ternyata memang ada yang disembunyikan. Astaghfirullah ada apa lagi, kenapa nggak jujur aja. Aku lebih suka seseorang itu berkata jujur meskipun sebenarnya akan membuatku sakit hati ketika mendengarnya. Seperti sebuah hadits fenomenal yang jelas banget kita tidak asing mendengarnya "Qulil Haq Walau kaana Murron" yang artinya Sampaikanlah walaupun itu pahit. Hadits tersebut Riwayat Ahmad dan Shahih dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Kebenaran harus disampaikan walaupun itu pahit.

Kutambahin lagi kebetulan waktu baca-baca ngelihat kata-kata yang lebih nancep ini, “Itu benar, dalam situasi tertentu, dusta bisa menyelamatkan hubungan; dan jujur ternyata menghancurkannya. Tapi tetap saja, pilihlah kejujuran. Maka biarkan sisanya mengalir seperti air, boleh jadi endingnya tetap langgeng dan bahagia. “ – Tere Liye.

Lagi-lagi aku mengucap Astaghfirullah. Nggak nyangka aja gitu. Akhirnya tepatnya kemarin malam kebetulan aku lagi-lagi scroll story dan nge-reply lagi salah satu story yang diunggah seseorang yang kebetulan sama dengan story awal (yang tadi diatas kuceritakan), dan chatku dibalas dengan kata "maaf". Well, aku orangnya memang kalau udah dijawab dan udah tau gimana-gimananya meskipun ya tetep sakit itu lebih mending daripada harus sembunyi-sembunyi.

Jadi mungkin kutipan yang dapat saya pelajari disini, tetap tenang tetap pada prinsip jangan pernah sakit hati terhadap apapun yang memang kita nggak suka, jengkel, atau perasaan negatif lainnya. Legowo kalau kata orang Jawa, memang susah tapi hal ini selain bisa menjaga kesehatan pikiran juga bisa menerima segalanya dengan lapang dada apa yang terjadi di sekitar dalam kehidupan sehari-hari. Memang sepele tapi ini coba aja rasanya seperti apa nanti bisa sharing-sharing bareng di kolom komentar.

See you readers, semoga bermanfaat :)

Komentar